Minggu, 23 Januari 2011

SILSILAH AMPUANG

 Mula pertama orang Indonesia pergi ke Philipina adalah bernama Ampuang berasal dari Sangihe. Ampuang menikah dengan Ruatangkan, mereka dikaruniai anak bernama Datu Tahidumole. Datu Tahidumole menikah dengan Hiabunti, mereka melahirkan Datu Matumama. Datu Matumama menikahi Lalakangbulang lalu melahirkan Ondolilare. Ondolilare menikah dengan Waulana, mereka melahirkan Lapatua. Lapatua menikah dengan Binilangkati, lalu melahirkan Ampuang II.  Kemudian Ampuang II  menikah dengan Belisehiwu lalu memperanakan anak-anak sebagai berikut :
  1. Balatanggara
  2. Ratu Mangantanusa
  3. Tubu-tubu
  4. Mangingbulang
  5. Manamehe
  6. Tandingbulaeng
  7. Tikase
  8. Bawu Raupang dan
  9. Lamanaowa.
Balatanggara, Ratu Mangantanusa, Manamehe, dan Lamanaowa kembali ke kepulau Sangihe, mulai dari pulau Balut/Marulung, Saranggani hingga ke daratan pulau Sangihe Besar.  Manamehe memiliki sebuah batu keberuntungan. batu tersebut sampai saat ini masih ada di Marulung.
Tubu-Tubu pergi ke Bolang Itang. Mangingbulang pergi ke Sulu. Tandingbulaeng, Tikase, dan Bawu Raupang tinggal di Mindanao.  Bahwa pulau Balut disebut Marulong/Marulung artinya dekat Marori daratan. Alkisah bahwa Marulung, Saranggani dahulukala bersambung dengan pulau Mindanao, akan tepi datanglah orang-orang sakti dari kerajaan Tamponglawo (sangihe) dengan menggunakan lenso (saputangan) sebagai perahu, dengan maksud memerangi kerajaan di Mindanao, oleh karena ingin memisahkan diri dari kerajaan Tampunglawo. Orang-orang sakti ini membuat tali (kakandong), mengambil Tempurung kelapa lalu diisi dengan pasir,  lalu menarik tempurung dengan tali yang sementara dibuat (kekandongang) dibarengi/disertai  dengan ucapan-ucapan(Sasambo), sehingga pulau Mindanao terputus lalu jadilah pulau Marulung(Balut) dan Saranggani sekarang ini terpisah dari Mindanao. Konon mereka kehabisan bahanbaku (ijuk) dari pohon Seho (Enau) atau dalam bahasa Sangir disebut Kampuhang, sehingga kedua pulau tersebut tak sempat dibawa lebih dekat ke pulau Sangir Besar. Berdasarkan peristiwa ini kerajaan-kerajaan Mindanao menyerah dibawah taklukkan kerajaan Tampunglawo dibawah raja Gumansalangi. Pulau Marulung(Balut) dan Saranggani di persembahkan sebagai upeti kepada kerajaan Tampunglawo, berdasarkan peristiwa ini, maka kedua pulau ini dihuni oleh masyarakat keturunan Sangihe Talaud hingga kini.  Sultan Mindanao berasal dari keturunan Gumansalangi. melalui anak bernama Tipuandatu memiliki sebuah jubah yang dinamai menurut namanya “ Tampuan Punta”  adalah kulano (sultan) di Mindanao.
Di daerah Tugis terdapat makam Umar Masade, seorang imam Islam dari Tabukan (Sangihe). Menurut cerita makam ini terjadi keajaiban hari demi hari berkemang terus menjadi besar. Umar Masade berasal dari kerajaan Tabukan yang belajar agama Islam di Ternate  menurut cerita rakyat bahwa ia pergi ke Mindanao dengan menggunakan sebuah piring besar. Piring ini sering digunakan untuk pergi pulang Tabukan dalam menyebarkan agama Islam pada abad ke 14. terjadi keajaiban . Juga Panurat yang menyebarkan agama Islam di Marulung.
Keturunan generasi ketiga Umar Masade dan Panurate adalah Melanginusa, yang menyebarkan agama Islam di pulau Marulung(Balut) dan saranggani dan Nalikunusa pergi ke semua tempat di Mindanao mereka tidak kembali ke Tabukan keturunan mereka berkembang di Mindanao.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar